Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Selamat malam di malam apapun yang sangat berbahagia khususnya malam Minggu, kali ini saya akan berbagi cerita tentang apa yang saya pelajari di minggu ini. Sebelum ke pembahasan, sedikit bercerita tentang MK Logika ini. Saya merasa senang di minggu ini akhirnya bisa berjumpa kembali dengan pelajaran ini. Dimana pelajaran ini sangat di senangi oleh mahasiswa yang menyukai MK Logika termasuk saya sendiri.
Dalam Mata Kuliah ini banyak pembelajaran yang harus kita pelajari dan pahami secara Logika, sesuai dengan nama MK nya. Pelajaran ini memang harus menggunakan logika yang secara kaidah bahasanya dirancang sedemikian rupa agar mudah dipahami oleh otak kita. Meskipun dalam pembelajaran kita berbasis online tapi tidak mengurangi rasa semangat saya untuk mengikuti MK logika.
Pada blog kali ini pembahasan materinya tidak jauh berbeda dengan blog sebelumnya, karena materinya yang sama atau temanya yang sama yakni “ Ilmu, Indikasi, dan Kata”. Namun pembahsan kali ini hanya membahas tentang “apa sih pengetahuan, ilmu dan kebenaran?”.
Jika kita amati pengetahuan itu apa yang kita ketahui oleh diri kita yang secara langsung kita amati atau kita baca bahkan bisa kita tangkap dari apa yang kita dengarkan. Sedangkan pengetahuan (knowledge) menjelaskan bahwa tercetaknya gambaran sesuatu didalam pikiran baik dalam bentuk dugaan atau keyakinan. Jadi baru disebut dengan dugaanpun sudah bisa disebut sebagai pengetahuan.
Apa itu tercetaknya gambaran? Sebagai contoh. Misalkan disebutkan kelinci putih, maka dipikiran kita tercetak gambaran tertentu. Maka muncul gambaran bentuk, warna rambutnya seperti apa. Kemudian jika dikatakan filosof, konselor, maka akan muncul gambaran pengetahuan.
Aristoteles memperkenalkan tiga asas pikiran, diantarnya:
• Asas identitas: jika sesuatu itu benar, maka benarlah ia.
Misalnya:
A: ini Bunda anda (menunjuk bundanya)
Jika anda sudah mengetahui bahwa itu bunda anda. Maka benarlah itu bunda anda.
• Asas kontradiksi: tidak ada pernyataan yang benar dan salah sekaligus.
Misalnya:
A: ini bunda anda (Benar)
B: ini bukan bunda anda (Salah)
Jika bunda anda itu benar, maka ini bukan bunda anda itu salah. Sebaliknya, jika itu bukan bunda anda itu benar, maka ini bunda anda itu salah.
• Asas penolakan kemungkinan ketiga: suatu pernyataan selalu dalam keadaan benar atau salah.
Misalnya: saya mahasiswa
Jika itu benar mahasiswa, harus menggunakan atau menjelaskan dan mempunyai suatu argumentasi atau penjelasan yang kuat agar dapat membuktikan bahwa “saya mahasiswa” itu benar.
Kriteria kebenaran:
• Korespondensi: sesuai pernyataan dengan kenyataan.
Contoh: “ini api (menunjuk api)”
Jika pernyataan api itu sesuai dengan kenyataannya maka itu benar. Jika “ini api” yang ditunjuknya itu “air” maka itu tidak benar. Karena tidak sesuai dengan kenyataan.
• Koherensi: sesuainya pernyatan-pernyatan dari awal hingga akhir.
Contoh: “saya mahasiswa”
Dalam pernyataannya “saya mahasiswa” ini ia ceritakan mahasiswa dari awal hingga akhir sesuai dengan fakta secara beruntut.
Selain 2 kriteria itu ada juga kriteria. Pragmatis: benar ada manfaat dan real bisa dirasakan.
Contohnya: kita menaiki pesawat terbang dari Jakarta ke Malang. Kita tidak mengetahui apa saja yang ada atau akan terjadi. Tapi kita meyakini bahwa ada manfaat didalmnya dan bisa terasakan oleh kita.
Pengetahuan ada dua macam:
• Penggambaran (tashawwur): mengetahui esensi dari suatu kata tanpa memberikan pengafirmasian atau penegasan terhadapnnya.
Contoh: mengetahui pengertian dari kata Muhammad, kamu, rumah, burung pohon.
Misalnya: anda mengetahui Muhammad hanya pada si Muhammad yang anda pikirkan dan anda kenal saja.
• Penilaian (tashdiq): mengetahui esnsi dari suatu kata disertai dengan memberikan pengafirmasian atau penegasan terhadapnnya.
Contoh: mengetahui bahwa Ahmad Abdul adalah pelopor kebangkitan umat islam, Indonesia adalah negara yang kaya.
Misalnya: Ahmad Abdul adalah pelopor kebangkitan umat islam. Dalam kalimat tersebut tidak hanya namanya saja tapi juga dijelaskan bahwa Beliau siapa, dan itu apa.
Kedua jenis pengetahuan itu masing-masing terbagi menjadi dua macam:
• Aksiomatis (badihi): dapat diketahui tanpa pikir panjang.
Contoh: mengetahui makna lapar, haus (tashawwur badihi)
Contoh: mengetahui satu adalah setengah dari dua (tashdiq badihi)
• Teoritis (nazhari): dapat diketahui dengan pemikiran panjang.
Contoh: mengetahui makna listrik, ruh, elektromagnetik (tashawwur nazhari)
Contoh: mengetahui bahwa alam semesta itu diciptakan Tuhan (tashdiq nazhari)
Baik, mungkin itu saja catatan yang saya simak dari pertemuan ke 7. Jika ada kesalahan mohon di maaf.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Link pertemuan ke-07
https://www.facebook.com/groups/781788585797377/permalink/831893594120209/?sfnsn=wiwspmo