Fallasi 03

Baiklah dalam blog kali ini penulis menegaskan bahwa Fallasi adalah kaidah-kaidah yang mengatur semua dialog atau percakapan antar manusia. Dalam konteks Fallasi, orang yang salah bukan hanya dari satu pihak saja, melainkan dapat terjadi dalam dua pihak sekaligus.

Fallasi atau sering disebut sesat pikir, merupakan sebuah kata untuk menggambarkan bagaimana seseorang salah berpikir atau sesat pikir yang dapat berakibat fatal. Hal ini dapat terjadi karena seseorang mengeluarkan argumen yang bertele-tele juga bisa berakibat fatal jika pendengar tidak serius menanggapi argument tersebut.

Mengenali fallasi sangatlah penting karena dapat memenangi dalam sutu perdebatan, yang mana apa yang disampaikan nya bukan hanya argument yang kuat. Akan tetapi dengan mengutarakan bahasa yang tidak kuat yang dapat mengecoh atau membuat keliru, bahkan dapat menghipnotis publik. Mereka adalah pengguna fallasi yang berusaha memenangai perdebatan atau argumentasi dengan cara memanipulasi masa dengan Bahasa yang dapat membuat keliru si pendengarnya atau publik.

Dalam fallasi terdapat jenis fallasi yang disebut Begging the question, mundur dari tanggung jawab (?).

Begging the question adalah Anda tidak membuktikan apa yang seharusnya Anda buktikan tapi justru menerimanya sebagai kebenaran. Argumen ini terjadi ketika suatu pihak menggunakan pola pikir yang melingkar, dan sering digunakan dalam lingkungan keluarga, sekolah atau masyarakat. Begging the question ini akan menjadi tidak jelas, bagian mana yang argumen dan bagaimana yang pro kontra. Contoh sesat pikir ini seperti seorang yang memberi pertanyaan tetapi diulang menjadi pernyataan sehingga akan membuat ambigu pendengarnya.

Contoh:

Adam adalah pemimpin yang tegas, karena iya selalu ditakuti dan disegani oleh masyarakat.

Fallasi ini mengklim kata sebagai argument atau dalil yang sebelumnya, Anda meletakkan konklus (kesimpulan) sebagai salah satu premis atau sebagai dasar pemikaran, dan problem sebagai solusi. Ini merupakan bagian dari arguing in a circle/al-istidlal al-da’iri.

Contoh:

Hewan adalah binatang.
Semua binatang bisa bernafas.
Jadi, hewan bisa bernafas.

Konklus sama dengan premis mayor. Hewan dan binatang adalah sinonim.

Padahal prinsip argumentasi adalah Bukti (premis-premis) harus lebih jelas dari pada Yang Dibuktikan (konklusi). Fallasi ini sejenis penyelundupan. Kita bisa menyelundupkan konklusi yang harus Kita buktikan kedalam premis-premis pembuktian.

Sumber : https://bangapad.wordpress.com/2019/02/11/fallasi/

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai