Fallasi adalah bentuk-bentuk argumentasi yang keliru yang tampak seolah-olah benar. Fallasi dibahas secara khusus dalam Informal Logic (al-manthiq ghayr al-shuri). Informal Logic adalah penggunaan logika untuk mengenali, menganalisis, dan menilai argumentasi-argumentasi yang digunakan di dalam percakapan atau dialog sehari-hari baik dalam obrolan, iklan, debat politik dan persidangan baik yang kita temukan di koran, radio, tv, internet, dll.
Mempelajari fallasi bukan hanya dengan satu pengertian fallasi karena fallasi mempunyai banyak makna serta memerlukan ilmu logika yang berhubungan antara akal pikiran dengan tata bahasa bagi lisan. Ilmu logika dapat melindungi pikiran dari kesalahan dan dapat menyikapi tabir (penghalang) dari konsep-konsep yang (halus). Fallasi mempunyai banyak jenis-jenisnya, dalam jenis fallasi mempunyai karakter pembeda yang membuat fallasi bukan hanya satu pengertian saja. Dan dalam mempelajarai fallasi juga harus mempelajari ilmu logika agar lebih memahamai mana fallasi dan mana yang bukan fallasi.
Kali ini jenis fallasi atau sesat pikir yang digunakan dalam memberikan pernyataan yang dilontarkan oleh orang yang mempunyai wewenang lebih tinggi dari pada yang mendengarkan dan pernyataan tersebut di anggap benar karena jabatan dan takut akan atasan, hal ini disebut appel to authority.
Appel to authority dari namanya bisa kita simpulkan bahwa kita seolah-olah dipaksa tunduk karena pernyataan orang tersebut keluar dari mereka yang mempunyai jabatan atau kedudukan yang lebih tinggi dari kita. Atau dengan kata lain, pernyataan orang tersebut dianggap benar karena kita takut denga orang yang memberikan pernyataan tersebut.
Contoh:
“kampung kita paling indah! Kata pak RT sih gitu”
Nah, kalimat diatas itu logikanya salah karena landasan yang dia pakai adalah “kata Pak RT”. Seolah-olah, dengan menggunakan kedudukan orang yang lebih tinggi, kalimat tersebut menjadi benar.
Padahal, untuk menentukan kata “kampung paling indah” itu harus ada gambaran yang jelas, atau argumentasi yang jelas yang menggambarkan kebagusan kampung tersebut. Mungkin dengan melihat lingkungan yang bersih (kampung tersebut bersih tidak ada sampah yang berkeliaran dan bercecaran, baik dijalan, lingkungan rumah serta selokan-selokan) atau bisa dilihat dari cara kerja masyarakatnya. Jika didefinisikan, kata “bagus” adalah selalu bergotong royong dan bekerja sama.
Sumber:
https://bangapad.wordpress.com/2019/02/11/fallasi/