Assalamu’alaikum.wr.wb..
Baiklah pada kali ini saya akan menjelaskan tentang fallasi. Falasi berasal dari fallacia atau falaccy dalam bahasa Yunani dan Latin yang berarti ‘sesat pikir’. Falasi didefinisikan secara akademis sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja. Ia juga bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana dengan ‘ngawur’.
Fallasi adalah bentuk-bentuk argumentasi yang keliru yang tampak seolah-olah valid. Fallasi adalah penyimpangan dari kaidah-kaidah yang mengatur semua jenis dialog atau percakapan antar manusia.
Fallasi telah dibahas sejak dulu. Misalnya, oleh Plato, Aristoteles, Locke, Mill, dan Schopenhauer.
Schopenhauer menyebut fallasi sebagai tipuan dialektis. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya jika untuk setiap tipuan dialektis (sesat pikir) kita dapat memberikan sebuah nama khusus yang sangat kuat kesesuaiannya (antara sesat pikir dengan namanya) sehingga setiap kali ada orang yang melakukannya kita dapat langsung mem-bully-nya dengan menyebut nama tersebut.”
Fallasi mempunyai banyaka varian dari varian atau jenis-jenis fallasi dalam blog yang saya baca, yang di tulis oleh pak Fahdil, Fallasi ada 30, diantara ke 30 fallasi itu yang akan saya bahas, hanya beberapa jenis-jenis fallasi baik di blog ini atau blog selanjutnya.
Fallasi mempunyai banyak jenis dan banyak makna yang dapat diartikan, mempelajarinya tidak dengan satu penjelasan saja harus dengan jenisnya agar tidak keliru mana Fallasi dan mana hanya argument biasa, namun yang akan saya tulis kali ini jenis fallasi yang berkaitan dengan body shamming atau tidak mengacu pada argumennya akan tetapi mengacu pada si pelakunya. Seperti itu disebut Argumentum ad hominem.
Argumentum ad hominem atau bisa di sebut Ad hominem merupakan jenis sesat pikir yang terjadi ketika dua pihak beradu argument. Mengacu dari beberapa jenis argument, tetapi tidak semuanya salah. Biasanya istilah ini mengacu pada strategi retoris di mana pembicara menyerang karakter, motif, atau atribut dari orang yang membuat argument dari pada menyerang argumennya atau pembahasan yang sedang di bicarakan. Dan istilah ini juga menuju ke bentuk tubuh, keadaan hidup serta masih banyak lagi yang dapat menyebabkan body shamming.
Dalam menggunakan argumentasi ini, harus dapat bisa membedakan mana pelecehan murni atau body shamming dan mana kekeliruan.
Beberapa contoh argumentasi Ad hominem yang menyerang karakter hanya dianggap sebagai ke keliruan jika digunakan sebagai ganti argumen asli.
Pelecehan murni: “B” mengatakan tentang lawan “A”, “Kamu bodoh”. Dalam hal ini, tidak ada argumen, hanya penyalahgunaan. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu penyebutan nama atau panggilan yang menuju kepada perilaku, bentuk tubuh serta kedaannya. Salah satu contohnya seperti: “S” memanggil lawan atau temannya si “T”, dengan panggilan “Cungkring”. Dengan demikian terdapat pelecehan secara murni tanpa ada argumen, hanya penyalahgunaan nama.
Kekeliruan: “A” membuat argumen, “B” menjawab dengan “Kamu bodoh dan kamu juga jelek, kamu tidak mungkin benar”. “B” tidak memberikan argumen atau tanggapan yang tulus, hanya pelecehan – ini keliru. Dapat di klim bahwa si “B” tidak menyukai argument si “A”. maka si “B” menggunakan body shamming yang membuat kekeliruan antara argumen si “A” tersebut.
Sumber: